Di Bawah Tenda GSG Bahrul Ulum, NU Pilih Pulang ke AHWA

Di Bawah Tenda GSG Bahrul Ulum, NU Pilih Pulang ke AHWA

Jombang, WartaKarya - Terik matahari Jombang menembus sela-sela tenda di halaman Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Sabtu siang (30/8/2026). Di dalam Gedung Serbaguna Hasbullah Said, suara interupsi dan tepuk tangan silih berganti. Pleno III Muktamar ke-35 NU sedang berlangsung, dan hawanya beda dari muktamar-muktamar sebelumnya.

Ini bukan lagi soal siapa paling banyak dapat suara. Ini soal NU mau dibawa ke mana di abad keduanya.

Dini hari tadi, tepat pukul 00.40 WIB, palu pimpinan sidang diketuk. 401 muktamirin memilih "berubah". Sistem one man one vote yang dipakai 5 tahun lalu resmi ditinggalkan. NU kembali ke Ahlul Halli wal Aqdi - mekanisme musyawarah perwakilan oleh 9 ulama pilihan.

"Kalau bukan kita yang mulai pembenahan dari sekarang, mau kapan lagi?" gema suara KH Marsudi Syuhud masih terngiang dari forum kiai sepuh Lirboyo sehari sebelumnya. Seruan itu seperti jadi angin yang meniup keputusan pleno.

Pleno Siang: Sibuk Tabulasi

Jelang sore, meja-meja panitia penuh berkas usulan. PWNU dari Aceh sampai Papua, PCNU dari luar negeri, semua menyetor maksimal 5 nama. Tugas mereka sekarang: menabulasi siapa 5 nama dengan dukungan terbanyak untuk diajukan ke AHWA.

Di kursi peserta, Gus Rozin dari Jateng terlihat berdiskusi pelan dengan Gus Kikin dari Tebuireng. Lima bakal calon Ketum - termasuk mereka - sudah sepakat di awal: menerima apapun hasil AHWA. Tidak ada kampanye terbuka, tidak ada baliho.

"Yang penting marwah Syuriyah dijaga," kata salah satu Rais Syuriyah PCNU di sela istirahat.

Jombang yang Ramai

Di luar GSG, suasana juga tidak kalah hidup. Posko Muhammadiyah di Mojokrapak masih antre. 10 ribu mangkuk bakso gratis sudah habis dibagi dua hari ini. Kokam berjaga, santri lalu-lalang bawa map berisi usulan.

Hotel-hotel penuh sejak sebulan lalu. Warga Tambakberas membuka rumahnya jadi tempat singgah. "Ini muktamarnya para kiai, ya kita harus melayani," ujar Bu Nunung, warga sekitar.

Menanti 9 Nama

Malam nanti pleno akan fokus mengesahkan 9 nama AHWA. Merekalah yang nanti memilih Rais Aam dulu, baru memilih Ketua Umum dari 5 nama final.

Tidak ada yang bisa menebak siapa. Tapi semua sepakat: keputusannya harus independen, jauh dari intervensi dan politik uang. Itu 2 dari 7 pesan Kiai Sepuh Lirboyo yang ditempel di pintu masuk sidang.

Pukul 15.30 WIB, adzan ashar berkumandang. Sidang diskors 30 menit. Para muktamirin berbondong ke mushola darurat. Setelah ini, sejarah NU 5 tahun ke depan akan mulai ditulis. **(Agus F)