Tanggamus Perkuat Hilirisasi Kakao, Kopi, dan Kelapa

Tanggamus Perkuat Hilirisasi Kakao, Kopi, dan Kelapa

Tanggamus, WartaKarya - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanggamus menegaskan komitmennya mendorong hilirisasi komoditas unggulan daerah, khususnya kakao, kopi, dan kelapa, dalam peringatan World Chocolate Day 2026 bertema Strengthening Sustainable Cocoa Partnerships through Agroforestry and Market Collaboration di Pekon Sidomulyo, Kecamatan Semaka, Selasa (28/7/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Kementerian Perindustrian RI, Pemerintah Provinsi Lampung, Bank Indonesia, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Rikolto Indonesia, Preferred by Nature, perusahaan pengolahan kakao nasional dan internasional, akademisi, serta ratusan petani kakao dari Kabupaten Tanggamus, Lampung Barat, dan Lampung Timur.

Turut mendampingi Bupati Tanggamus jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), di antaranya perwakilan Bappeda, Dinas Perkebunan dan Peternakan, Dinas KPTPH, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PMD, Dinas PPA Dalduk KB, Dinas Koperindag, Camat Semaka, serta Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setdakab Tanggamus.

Dalam sambutannya, Bupati Tanggamus Drs. H. Moh. Saleh Asnawi, M.A., M.H., mengatakan Kabupaten Tanggamus memiliki potensi besar sebagai salah satu sentra produksi kakao di Provinsi Lampung. Saat ini luas perkebunan kakao rakyat mencapai 13.640 hektare dengan produksi sekitar 8.672 ton yang menjadi sumber penghidupan bagi 17.634 kepala keluarga petani.

Menurutnya, peningkatan produksi harus dibarengi dengan pembangunan industri pengolahan di daerah agar nilai tambah komoditas dapat dinikmati masyarakat setempat.

"Ke depan kita berharap seluruh hasil pertanian di Tanggamus dapat dihilirisasi di daerah sendiri. Jika pabrik berdiri di sini, pemerintah memperoleh pendapatan untuk pembangunan, masyarakat mendapatkan manfaat CSR, harga lebih terjamin, dan lapangan kerja semakin terbuka," ujar Saleh Asnawi.

Ia mencontohkan komoditas kopi robusta Tanggamus yang selama ini sebagian besar masih dikirim ke luar daerah untuk diolah sehingga nilai tambah ekonominya belum dirasakan masyarakat Tanggamus.

"Selama ini kopi robusta dari Tanggamus dibawa ke daerah lain untuk diproduksi. Yang menikmati nilai tambah bukan Tanggamus. Karena itu kami ingin hilirisasi dilakukan di daerah sendiri," katanya.

Selain kopi, Pemkab Tanggamus juga menargetkan pengembangan industri hilir kakao dan kelapa. Bahkan, pengolahan cokelat skala rumah tangga akan didorong melalui pemberdayaan kelompok PKK.

"Kakao ke depan akan kita hilirisasi di sini. Saya ingin nantinya menjadi peluang usaha bagi ibu-ibu PKK dengan mesin sederhana sehingga mampu menghasilkan produk cokelat yang memiliki nilai jual," tambahnya.

Bupati juga mengungkapkan pemerintah daerah tengah membuka peluang kerja sama investasi, termasuk dengan investor dari Korea Selatan, untuk mendukung pengembangan industri hilir sektor perkebunan.

Sementara itu, Direktur Program Kakao Asia Tenggara Rikolto, Nuzul Qodri, menjelaskan Program Climate Change Adaptation Modality (CCAM) yang berjalan sejak 2023 telah mendampingi petani kakao di Kecamatan Semaka, Wonosobo, dan Pematang Sawa.

Sebanyak 950 petani telah mengikuti pelatihan budidaya kakao yang baik, penerapan agroforestri, pelatihan agribisnis, serta menerima ribuan bibit tanaman pendukung untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan kebun kakao.

Di sisi lain, perwakilan Preferred by Nature, Kiswara Santi, menekankan pentingnya sistem agroforestri sebagai strategi menjaga keberlanjutan produksi kakao di tengah tantangan perubahan iklim.

"Kami ingin mempertemukan seluruh pemangku kepentingan agar kakao Lampung kembali menjadi primadona dunia. Tanpa agroforestri, perubahan iklim dikhawatirkan akan memengaruhi kualitas bahkan keberlanjutan tanaman kakao di masa depan," ujarnya.

Selain seremoni pembukaan, peringatan World Chocolate Day 2026 juga diisi dengan penanaman pohon bersama, kunjungan ke demplot agroforestri, pameran usaha petani (Farmer Business Showcase), serta kegiatan business matching antara kelompok tani dan pelaku industri guna memperkuat rantai pasok kakao berkelanjutan. **(Saripudin)